Minggu, 01 April 2012

Heboh Penangkapan 2 Konglomerat di Hongkong


REPUTASI Hongkong sebagai salah satu wilayah paling bebas korupsi di Asia tercoreng. Dua taipan bisnis yang juga konglomerat di wilayah otonomi Tiongkok tersebut memicu heboh dan kegemparan akibat korupsi. Thomas Kwok, 60, dan Raymond Kwok, 58, kakak beradik yang menjadi bos raksasa properti Hongkong, Sun Hung Kai Properties Ltd, terjerat skandal suap atau kasus penyuapan sehingga ditangkap oleh Komisi Independen Antikorupsi (ICAC) Hongkong pada Kamis lalu (29/3).

Penangkapan Kwok bersaudara itu berdampak signifikan di pasar modal. Begitu kabar penangkapan itu tersiar dan beredar, saham Sun Hung Kai pun langsung anjlok sekitar 15 persen pada sesi pertama bursa saham Jumat lalu (30/3). Dalam empat jam, nilai pasar saham perusahaan properti tersebut terpuruk sehingga mengakibatkan investor rugi USD 6 juta (sekitar Rp 54,8 miliar).

Selain mengamankan Thomas dan Raymond, ICAC juga menangkap Rafael Hui. Tokoh yang menjabat sebagai chief secretary (semacam menteri sekretaris negara) Hongkong pada 2005-2007 itu juga pernah menjadi penasihat penting di Sun Hung Kai. Kepada CNN, sumber ICAC menyatakan bahwa tiga serangkai itu langsung menjalani serangkaian interogasi dengan petugas. Tetapi, belum ada satu pun yang dikenai dakwaan.

Dalam edisi online kemarin (31/3), RTHK melaporkan bahwa Thomas, Raymond, maupun Hui telah dibebaskan Jumat malam (30/3). Tidak banyak penjelasan ICAC soal skandal tersebut. Termasuk, informasi seputar penangkapan dan pembebasan ketiganya. Berbagai media memberitakan bahwa Kwok bersaudara diciduk dalam penggerebekan dan operasi atau razia antikorupsi.

Sun Hung Kai membenarkan penangkapan dua bosnya tersebut dalam razia antikorupsi. Kwok bersaudara yang menduduki peringkat ke-27 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes (dan termasuk orang terkaya di Hongkong setelah taipan bisnis Li Ka-shing) itu menegaskan bahwa penangkapan mereka tak akan mempengaruhi kinerja Sun Hung Kai.

’’Semua (yang berkaitan dengan bisnis) akan berjalan normal seperti biasa,’’ ungkap mereka dalam surat kepada direksi perusahaan. Selama investigasi berjalan, dua putra mendiang Kwong Tak-seng itu berjanji tetap menjalankan bisnis. ’’Seperti biasa, kami akan tetap bekerja keras dan menjalankan tugas kami sebagai chairman dan managing directors, serta bekerja sama dengan semua pihak,’’ tegas mereka, seperti dikutip Wall Street Journal kemarin (31/3). Adik Walter Kwok, yang telah tersingkir dari dewan direksi Sun Hung Kai, itu juga bertekad untuk menebus kerugian di pasar modal Jumat lalu.

Meski penangkapan Thomas dan Raymond diyakini tak akan banyak mempengaruhi kinerja bisnis Sun Hung Kai, dampaknya tetap akan signifikan bagi Hongkong. Apalagi, belum lama ini (mantan) Chief Executive Donald Tsang juga dikabarkan terjerat kasus suap yang melibatkan para taipan Hongkong. Konon, tokoh 67 tahun itu dikabarkan sempat menikmati perjalanan mewah dengan jet pribadi dan kapal pesiar.

Tetapi, Tsang membantah semua tudingan tersebut. Dia mengklaim bahwa dirinya bepergian dengan menggunakan jet pribadi dan kapal pesiar atas biaya sendiri. Begitu juga soal apartemen mewah miliknya di Shenzhen, Tiongkok, yang diduga sebagai hasil gratifikasi. Tsang menegaskan bahwa apartemen itu dia beli dengan uang pribadi tanpa campur tangan pihak lain.

Selama ini, pemerintah Hongkong selalu memiliki hubungan istimewa dengan kalangan taipan properti yang mendominasi jumlah pebisnis di bekas koloni Inggris tersebut. ’’Penangkapan itu menggarisbawahi persepsi masyarakat soal kedekatan atau konspirasi pemerintah dan pebisnis. Sejak lama, masyarakat curiga bahwa pemerintah dan pebisnis Hongkong punya hubungan tak wajar,’’ komentar David Webb, aktivis korporasi pemerintah.

Komentar senada juga diungkapkan Steve Vickers, pakar keamanan dan mantan kepala Hong Kong Police Criminal Intelligence Bureau. ’’Penangkapan itu jelas membawa guncangan bagi kalangan pebisnis Hongkong,’’ ujarnya. Apalagi, jika Thomas dan Raymond serta Hui kelak benar-benar terbukti terlibat skandal suap. Vickers menyebut skandal tersebut sebagai kasus high profile yang berpotensi mengubah citra positif Hongkong.

Selama ini, Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Hongkong termasuk bagus. Menurut Transparency International, pada 2011 (tahun lalu) Hongkong berada di peringkat 12 dalam daftar negara (wilayah) dengan tingkat korupsi terendah di dunia. Sebagai perbandingan, pada periode sama, Amerika Serikat (AS) hanya menempati peringkat 24.

Di sisi lain, Webb juga menduga penangkapan Thomas dan Raymond sebagai buntut dari konflik internal keluarga besar Kwok pada 2008. Ketika itu, Thomas dan Raymond menyingkirkan Walter dari posisi penting perusahaan. ’’Tampaknya, penangkapan itu punya keterkaitan dengan konflik internal pada 2008. Buktinya, Walter tidak ikut ditangkap,’’ ungkapnya. (CNN/WSJ/RTHK/hep/dwi)

0 komentar:

Posting Komentar